Tuesday, April 10, 2012

Tanaman Sagu dan Pemanfaatannya di Propinsi Papua


 
Sagu mempunyai peranan sosial, ekonomi, dan budaya yang cukup penting di Propinsi Papua karena merupakan bahan makanan pokok bagi masyarakat terutama yang bermukim di daerah pesisir. Pertanaman sagu di Papua cukup luas, namun luas areal yang pasti belum diketahui. Flach (1983) memperkirakan luas hutan sagu di Papua mencapai 980.000 ha dan kebun sagu 14.000 ha, yang tersebar pada beberapa daerah, yaitu Salawati, Teminabuan, Bintuni, Mimika, Merauke, Wasior, Serui, Waropen, Membramo, Sarmi, dan Sentani Hutan sagu merupakan komunitas yang terdiri atas campuran tanaman sagu dan tanaman nonsagu. Proporsi tanaman sagu dalam hutan sagu bervariasi antara kurang dari 30% sampai 90% (Haryanto dan Pangloli 1992). Hal ini menyulitkan dalam memperoleh data yang pasti mengenai luas daerah penyebaran sagu di Papua.

Informasi mengenai teknologi budi daya sagu masih sangat terbatas. Pemeliharaan kebun sagu yang dipraktekkan oleh petani masih sangat sederhana, yaitu berupa pemangkasan pohon yang menaungi sagu dan pembersihan gulma. Pemupukan, pengaturan air, dan teknik budi daya lainnya belum dipraktekkan sehingga hasilnya juga belum maksimal. Selain itu, usaha-usaha pengembangan sagu secara budi daya belum banyak mendapat perhatian sehingga suatu saat hutan sagu akan terancam punah. Sementara itu di negara lain seperti Malaysia dan Jepang, tanaman sagu sudah dikembangkan sejak beberapa dasawarsa yang lalu (Widjono dan Lakuy 2000). Pada masa datang, pengembangan dan budi daya sagu perlu mendapat perhatian. Tanaman sagu yang tumbuh di Papua terdiri atas banyak jenis, dan sampai saatini telah diidentifikasi  60 jenis pada empat tempat di Papua (Widjono et al. 2000). Dari jenis-jenis ini ada yang berpotensi hasil tinggi dan ada pula yang berpotensi hasil rendah dan sedang.
Tanaman sagu mempunyai banyak manfaat. Tepungnya digunakan untuk bahan makanan pokok di Papua yang disebut papeda, di samping untuk kue dan bahan baku untuk pembuatan spirtus atau alkohol. Daunnya digunakan sebagai atap rumah, pelepah untuk dinding rumah, dan ampasnya dapat dimanfaatkan sebagai pulp untuk pembuatan kertas atau pakan ternak (Haryanto dan Pangloli 1992; Batseba et al. 2000).

Kondisi dan Tempat Tumbuh Pohon Sagu
Sagu dapat tumbuh sampai pada ketinggian 700 m di atas permukaan laut (dpl), namun produksi sagu terbaik ditemukan sampai ketinggian 400 m dpl. Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson (1951), tipe iklim A dan B sangat ideal untuk pertumbuhan sagu dengan rata-rata hujan tahunan 2.500-3.000 mm/tahun. Suhu optimal untuk pertumbuhan sagu berkisar antara 24,50-29o C dan suhu minimal 15oC, dengan kelembapan nisbi 90% (Haryanto dan Pangloli 1992 ). Tanaman sagu membutuhkan air yang cukup, namun penggenangan permanen dapat mengganggu pertumbuhan sagu.
Tinggi tanaman pada penggenangan berkala hampir lima kali lipat dari tinggi tanaman pada penggenangan permanen atau tanpa penggenangan. Demikian pula dalam pembentukan anakan, penggenangan berkala mampu membentuk anakan dua kali lebih banyak dibanding penggenangan permanen atau tanpa penggenangan. Rendahnya pertumbuhan dan pembentukan anakan pada penggenangan permanen disebabkan oleh kurangnya oksigen di daerah perakaran karena semua pori tanah terisi oleh air. Sebaliknya pada daerah tanpa penggenangan terjadi kekurangan air terutama pada musim kemarau. Untuk memperbaiki pertumbuhan sagu pada daerah yang tergenang secara permanen perlu dilakukan perbaikan drainase, sedangkan pada daerah tanpa penggenangan perlu pengaturan pemberian air.
Pengertian mengenai hutan sagu adalah hutan yang didominasi oleh tanaman sagu. Selain sagu, masih banyak tanaman lain yang ditemukan dalam kawasan tersebut. Selain itu, dalam satu hamparan hutan sagu tidak hanya tumbuh satu jenis sagu, tetapi terdapat beragam jenis sagu dan struktur tanaman.
Struktur tanaman sagu dalam satu hamparan bertingkat-tingkat yang terdiri atas semaian, sapihan, tiang, dan pohon. Semaian adalah tanaman muda yang batangnya bebas daun hingga ketinggian 0-0,50 m; sapihan adalah tanaman yang batangnya bebas daun antara 0,50-1,50 m; tiang adalah tanaman yang batangnya bebas daun dari ketinggian 1,50-5 m, dan pohon adalah tanaman yang batangnya bebas daun pada ketinggian 5 m atau lebih (Haryanto dan Pangloli 1992).

Jenis- Jenis Sagu
Secara garis besar tanaman sagu dibagi menjadi dua golongan, yaitu sagu yang hanya berbunga dan berbuah satu kali, dan sagu yang berbunga dan berbuah dua kali atau lebih. Sagu yang berbunga dan berbuah hanya sekali mempunyai arti ekonomi penting karena kandungan acinya sangat tinggi. Golongan ini terdiri atas lima spesies, yaitu Metroxylon rumpii Martius, M. sagos Rottbol, M. Sylvester Martinus, M. longispinum Martinus, dan M. micracantum Martinus (Manan et al. dalam Haryanto dan Pangloli 1992). Spesies yang berkembang di Propinsi Papua adalah M. rumpii Martius (Tokede dan Fere 1997). Spesies ini masih terbagi ke dalam banyak jenis atau tipe berdasarkan ciri morfologi dan telah dikenal oleh masyarakat pengelola sagu dengan menggunakan penamaan lokal.
Miftachorrachman et al. (1996) telah mengidentifikasi 17−20 jenis sagu di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Jenis-jenis tersebut sudah mempunyai nama lokal dan sudah dikenal oleh masyarakat pengelola sagu di Papua. Nama-nama lokal sagu tersebut adalah sebagai berikut: Yakhali, Fikhela, Phane, Osoghulu, Yoghuleng, Rena, Hobolo, Yebha, Hili, Wanni, Follo, Habela, Yaghalobe, Phui, Phara Waliha, Rondo, Ebesung, Manno, Ruruna, dan Phara. Jenis-jenis sagu ini berbeda secara morfologi maupun kemampuan produksi per pohon.
Untuk mempertahankan eksistensi jenis sagu penghasil tepung tinggi dan sangat tinggi di masa datang diharapkan adanya upaya perlindungan melalui kegiatan koleksi plasma nutfah. Widjono et al. (2000) telah mengidentifikasi 61 jenis sagu pada empat lokasi di Papua. Identifikasi dilakukan menurut sifat-sifat kualitatif yang meliputi warna pucuk, bentuk duri, pelepah daun, diameter batang, warna tepung, bentuk tajuk, dan produksi tepung. Dari 61 jenis yang ditemukan, 32 di antaranya mempunyai produksi tinggi dan telah banyak dimanfaatkan oleh penduduk.
Jenis-jenis sagu ini merupakan kekayaan hayati yang tidak ternilai bagi daerah Papua. Untuk mempertahankan keberlanjutannya, jenis-jenis ini perlu dilindungi dan dibudidayakan secara normal. Untuk memperkaya bahan pertanaman budi daya sagu, jenis-jenis ini perlu dilepas dan diberi nama baku secara nasional.

TEKNIK BUDI DAYA LOKAL DAN PENGOLAHAN HASIL SAGU
a.      Teknik Budi Daya
Pengetahuan masyarakat Papua tentang budi daya sagu diperoleh secara turun temurun dan kebanyakan berhubungan dengan mitos. Budi daya sagu yang dipraktekkan masyarakat meliputi pemilihan jenis sagu berproduksi tinggi, pemilihan bibit, cara tanam, dan pemeliharaan tanaman. Pemilihan bibit didasarkan atas kriteria tertentu menurut asal pengambilan dan tinggi tanaman. Bibit biasanya diambil dari tunas yang berasal dari pangkal batang (bukan dari tunas akar), tunas dari pohon yang siap panen, dan tunas yang terletak di atas permukaan tanah. Tunas yang umum digunakan adalah yang berasal dari pohon yang siap untuk dipanen. Hal ini dilakukan untuk menghindari kerugian sebagai akibat pelukaan yang terjadi pada saat pengambilan tunas. Menurut persepsi masyarakat setempat, luka pada pohon induk pada saat pengambilan tunas akan mengganggu proses metabolisme sehingga menurunkan produksi aci. Selain asal bibit, tinggi bibit juga digunakan sebagai salah satu kriteria penting dalam pemilihan bibit. Tinggi bibit yang dipilih untuk ditanam diharuskan tidak kurang dari 1 m (Tokede dan Fere 1997).
Untuk menjamin keberhasilan penanaman sagu di lapangan, masyarakat Papua menggunakan perlakuan khusus terhadap bibit yang akan ditanam. Perlakuan ini berbeda-beda antarkelompok masyarakat (Tabel 6). Masyarakat Taminabuan tidak melakukan perendaman karena bibit yang diambil umumnya sudah membentuk akar serabut baru. Sementara masyarakat Inanwatan dan Wandamen melakukan perendaman karena sebagian akar serabut dari bibit dipotong. Perendaman dilakukan untuk merangsang tumbuhnya akar serabut baru.
Penanaman dilakukan pada lubang yang berdiameter 20−30 cm dengan kedalaman lubang 25−35 cm. Jarak tanam yang digunakan berkisar antara 4 m x 4 m sampai 10 m x 10 m. Sebelum penanaman, lubang tanam diisi dengan daun matoa atau daun paku-pakuan. Daun-daunan ini berfungsi sebagai sumber bahan organik bagi tanaman sagu. Setelah bibit diturunkan ke dalam lubang, lubang ditutup dengan tanah sebatas leher anakan. Penutupan lubang tidak boleh melebihi leher anakan, sesuai dengan cara tanam yang dianjurkan (Rostiwati et al. 1999).
b.      Pengolahan Sagu
Batang merupakan komponen hasil utama pada tanaman sagu. Tepung sagu diperoleh dari empulur sehingga pengolahan hasilnya cukup berat dan memerlukan alat yang khusus pula. Batang sagu yang sudah ditebang selanjutnya dikuliti untuk mendapatkan empulur yang mengandung tepung. Selanjutnya, empulur yang dihasilkan diparut agar memudahkan peremasan (pengepresan). Peremasan dilakukan dengan menggunakan alat pres untuk mengeluarkan pati dari parutan empulur. Setelah selesai peremasan, dilakukan penyaringan untuk membuang serat-serat kasar dari empulur. Suspensi pati yang didapatkan kemudian diendapkan untuk memisahkan tepung sagu dari air. Langkah selanjutnya adalah pengeringan, pengepakan dan penyimpanan atau distribusi ke konsumen. Tiap tahapan kegiatan atau jenis pekerjaan menggunakan alat yang berbeda-beda.
Peralatan pengolahan sagu sudah tersedia atau mudah disediakan kecuali untuk kegiatan pemarutan. Pemarutan empulur dapat dilakukan dengan menggunakan alat berupa silinder berpaku yang digerakkan oleh generator. Silinder berpaku mudah direkayasa di pedesaan, sementara generator membutuhkan biaya yang cukup mahal. Kondisi seperti ini tidak mudah bagi kebanyakan masyarakat Papua yang rata-rata berpendapatan sangat rendah. Oleh karena itu, umumnya masyarakat Papua menggunakan teknik pengolahan dan peralatan tradisional biasanya menggunakan kayu benrbentuk melengkung dan di ujungnya terdapat ring dari besi atau pipa yang di potong, pengolahan menggunakan alat ini di sebut dengan pangkur sagur (merauke). Pangkur merupakan alat pemarut empulur untuk mempermudah peremasan, sedangkan alat peremas digunakan untuk memisahkan tepung sagu dari empulur.


KEGUNAAN SAGU
Sagu mempunyai banyak kegunaan, di mana hampir semua bagian tanaman mempunyai manfaat tersendiri. Batangnya dapat dimanfaatkan sebagai tiang atau balok jembatan, daunnya sebagai atap rumah, pelepahnya untuk dinding rumah, dan acinya sebagai sumber karbohidrat (bahan pangan) dan untuk industri (Haryanto dan Pangloli 1992).
Aci sagu dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan, baik makanan pokok maupun makanan ringan. Oleh karena itu, tanaman sagu memegang peranan penting dalam penganekaragaman makanan untuk menunjang stabilitas pangan dan berpeluang untuk dikembangkan menjadi usaha industri rumah tangga. Papeda dan kapurung merupakan makanan pokok bagi sebagian penduduk asli Maluku, Papua, dan Sulawesi Selatan. Ini berarti bahwa bila sagu dapat dipertahankan sebagai bahan makanan pokok bagi sebagian penduduk di tiga daerah tersebut, maka beban pengadaan beras nasional menjadi lebih ringan. Sagu lempeng, buburnee, dan bagea berpeluang untuk dikembangkan menjadi industri rumah tangga. Menado (Sulawesi Utara) terkenal dengan bagea sagu sebagai oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut. Melihat pertanaman sagu di Papua yang sangat luas, peluang pengembangan industri rumah tangga hasil olahan sagu sangat besar. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dan keterampilan masyarakat Papua dapat menopang keberhasilan pengembangan industri rumah tangga berbasis sagu. Untuk itu, pelatihan dan alih teknologi perlu mendapat perhatian.
Sumber: Jurnal Litbang Pertanian 2003
M. Zain Kanro, Aser Rouw, A. Widjono, Syamsuddin, Amisnaipa, dan Atekan
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua, Jalan Yahim Sentani, Kotak Pos 256 Sentani, Jayapura 99352

0 comments:

Post a Comment

SILAHKAN BERKOMENTAR